Home / Opini

Senin, 20 September 2021 - 23:30 WIB

Menjadi Guru Merdeka dan Tantangannya

Istilah Merdeka Belajar mulai bergaung sejak Menteri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju dijabat oleh Nadiem Anwar Makarim. Konsep pendidikan Merdeka Belajar merupakan respon terhadap kebutuhan sistem pendidikan pada era revolusi industri 4.0.

Nadiem Makarim menyebutkan merdeka belajar merupakan kemerdekaan berpikir. Meskipun sempat terjadi polemik karena istilah tersebut telah terdaftar sebagai merek dagang milik PT Sekolah Cikal di Kementerian Hukum dan HAM, Merdeka Belajar akhirnya tetap lolos dan akhirnya mewarnai dunia Pendidikan di Indonesia. Bahkan sekolah-sekolah maupun kampus berlomba-lomba untuk memberi label “Merdeka” seperti Sekolah Merdeka, Kampus Merdeka dan seterusnya.

Untuk dapat mewujudkan konsep Merdeka Belajar tentu guru harus lah merdeka terlebih dahulu. Di saat guru sudah memiliki jiwa merdeka, maka para siswa pun akan terbawa. Dengan jiwa merdeka itu, anak akan terasah kreativitasnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang merdeka, bertanggung jawab,  dan sehat secara fisik serta mental.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si. dalam Seminar Nasional “Merdeka Belajar dalam Mencapai Indonesia Maju 2025” yang menyatakan bahwa Merdeka Belajar    adalah kemerdekaan berpikir di mana esensi kemerdekaan  berpikir  ini harus ada di guru terlebih dahulu. Namun, apakah guru benar-benar sudah merdeka?

Sayangnya, seringkali sebuah konsep sangat berbeda dengan implementasinya. Secara teori begitu indah namun ternyata dalam pelaksanaannya banyak sekali benturan yang terjadi. Kesan kaku dalam tradisi dan sistem pendidikan kita dapat membuat guru terbelenggu. Sehingga guru menjadi tidak merdeka.

Savitri (2019) menambahkan hambatan lain yang menyebabkan jiwa guru tidak merdeka adalah tentang memberi penilaian kepada siswa. Sistem yang ada mengharuskan guru tidak boleh memberi nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sangat berbeda dengan dulu di mana guru dapat menorehkan nilai merah di laporan belajar siswa.

Oleh sebab itu, rasa bimbang seringkali menyerang para guru yang ingin memberikan nilai apa adanya kepada siswa yang memang tidak tuntas, dengan catatan sudah melakukan pengayaan. Padahal yang seringkali terjadi di lapangan adalah siswa tidak mengindahkan pengayaan atau lainnya karena sudah tahu bahwa pasti naik kelas dengan nilai minimal. Mirisnya lagi, nilai minimal yang ditetapkan ternyata cukup tinggi.   

Selanjutnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa belenggu guru untuk merdeka adalah kurangnya kesejahteraan guru khususnya untuk para guru baru, guru tidak tetap, ataupun guru honorer yang statusnya kadang di sebagian tempat statusnya masih belum jelas. Sebagai guru yang baik dan berdedikasi, tentunya hal yang berkaitan dengan finansial ini tidak menjadi tolak ukur utama. Namun, himpitan ekonomi keluarga juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja karena guru yang juga harus perlu berpikir untuk memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak untuk keluarganya. Hal ini juga menjadi belenggu tersendiri bagi guru. Apalagi jika sistem penghargaan atau apresiasi internal sekolah tidak diterapkan secara adil.

Setiap guru memang memiliki permasalahan yang berbeda. Ada kalanya bukan permasalahan seperti yang disebutkan di atas, namun justru sebaliknya di mana sulitnya bangkit dari zona nyaman. Saat guru sudah berada di zona nyaman atau tercukupi secara materi, baik berkaitan dengan isi kurikulum maupun finansial, seringkali motivasi untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi kurang. Kemalasan untuk belajar saat adanya perubahan kurikulum ataupun perubahan teknologi menjadi meningkat. Di sinilah guru harus benar-benar mengalahkan permasalahan yang ada pada dirinya sendiri karena sejatinya mengajar adalah belajar.

Menurut Najelaa Shihab (Rahmah, 2019), salah satu urgensi utama guru sebagai pendidik yang merdeka adalah komitmen. Guru harus memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang akan diraih, yakni tujuan pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik di dalam kelas; tujuan yang membawa guru untuk selalu semangat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran.

Namun, ada saja tantangan yang dirasakan di dalam prosesnya yaitu kadang kala guru lupa membedakan mana yang termasuk cara dan tujuan komitmen. Banyak guru malah menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus tugas administrasi, menyiapkan akreditasi, atau ketentuan birokrasi lainnya yang sebenarnya adalah cara namun kemudian menjadi prioritas dan tujuan utama. Sehingga, guru cenderung mengesampingkan komitmen awal. Untuk itu, guru perlu memiliki komitmen yang kuat dan selalu mengingat komitmennya tentang tujuan atau tugas utama sebagai seorang guru. Dengan demikian, guru perlu mengatur ritme kerja dan manajemen waktunya dengan baik agar tugas utamanya tidak tergeser.

Komitmen sekolah sangat dibutuhkan untuk mendukung komitmen guru. Sebagai pimpinan sekolah, perlu membagi tugas kerja secara seimbang dan tidak memaksakan tugas. Pimpinan sekolah perlu cermat dalam mengidentifikasi potensi guru-gurunya sehingga dapat membagi beban tugas tambahan secara baik. Harapannya tugas kerja ini dapat terbagi secara adil dan tidak hanya membebankan pada sebagian orang saja.

Tentu saja dalam pelaksanaannya, pimpinan sekolah harus selalu mengevaluasi kinerja guru yang ditugaskan. Jangan sampai ada oknum-oknum yang hanya ikut titip nama tanpa mau bekerja. Pimpinan sekolah juga perlu mengapresiasi keberhasilan yang dilakukan guru secara adil. Di sini pimpinan sekolah harus tegas agar tidak ada pihak yang merasa diuntungkan maupun dirugikan.

Pentingnya Kolaborasi

Sejatinya guru yang merdeka adalah guru yang profesional. Untuk menjadi guru profesional seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang tentu tidaklah mudah serta tidak bisa dilakukan sendirian. Perlu adanya kolaborasi yang baik.

Kolaborasi di sini tentu tidak hanya sekadar membuat daftar nama-nama dalam tim, baik itu tim pengajar atau kepanitian, dan lain sebagainya. Tetapi semuanya benar-benar melaksanakan, saling mengajak, saling membantu, saling memotivasi, saling mengerjakan, saling memberikan saran atau kritik yang membangun.

Guru merdeka bukanlah guru yang mengutamakan kompetensi secara individual ketika belajar. Tetapi, guru merdeka adalah mereka yang berani mengambil aksi untuk tumbuh bersama lingkungan. Dengan demikian, tidak akan ada lagi guru yang bisa dan tidak bisa karena semuanya pasti bisa dan mau melakukan. Jika kolaborasi ini dapat dilakukan dengan baik, tentu semuanya akan menjadi baik. 

Dipandang melalui dimensi agama, sebagai manusia, guru memiliki peran masing-masing. Untuk menjalani peran tersebut, tentunya harus dilakukan dengan baik. Oleh sebab itu, perlu menata niat untuk terus berbuat baik. Artinya, diniatkan dengan baik dan dijalankan dengan baik.

Allah berfirman dalam Qs. Al-Kahfi (18) ayat 7, yang artinya “Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.

Di sinilah kita harus pandai-pandai menjalankan peran kita agar dapat membawa kebaikan, bukan malah membawa kerusakan karena sejatinya apapun yang kita lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Jika semua memahami perannya masing-masing dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab, dengan izin Allah akan membawa kebaikan dan keberkahan.

Ditulis oleh  Dra. Hasanah (Guru di MTsN 1 Kediri, Jatim)

Share :

Baca Juga

Opini

Apakah Para Guru Sudah Kompeten Melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh?

Opini

Jalan Menuju PTM Nyaman untuk Jenjang Pendidikan SMK

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Agus Sri Mulyo

Opini

Membangkitkan Minat Siswa Membaca Buku di Rumah
tuntutan abad 21

Opini

Menjawab Tuntutan Abad Ke-21
kampung inggris pekalongan

Opini

Siapkah Guru Menghadapi Tantangan Pendidikan New Normal?

Opini

Peran Orang Tua Menanamkan Pemikiran Pembelajaran Menyenangkan bagi Anak

Opini

Pembelajaran Menyenangkan dengan Proprofs Brain Game saat Kondisi Darurat Covid-19