Meningkatkan Kompetensi Digital Guru di Abad 21

- Editor

Sabtu, 4 Desember 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada abad 21 terjadinya suatu perubahan zaman yang ditandai dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang merubah kehidupan menjadi kian kompleks. Pada abad 21 ini diperlukan pengingkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat diupayakan melalui sektor pendidikan dalam usaha membangun peradaban yang baru dalam tatanan kehidupan yang semakin maju.

Kecakapan abad 21 pada dasarnya muncul karena realitas pendidikan belum sepenuhnya mengimbangi dan mengakomodasi output pendidikan atas kompetensi yang dimiliki seiring berkembangnya teknologi. Paradigma yang terbentuk umumnya adalah untuk kompetensi, yaitu fenomena “bersaing” antara pelaku pendidikan satu dengan lainnya.

Guru secara tanpa sadar, akan mengajari siswa untuk bersaing namun akhirnya lupa untuk bekerja sama. Misalnya, masih berlakunya pemeringkatan akademik, kelas akselerasi, dan sekolah favorit yang sedikitnya masih berlaku. Yang demikian dapat membentuk pola pikir kompetitif yang hanya mencerdaskan siswa pada ranah kognitifnya saja sehingga melupakan cara-cara kerja sama dan kolaborasi.

Hal ini tentu kontra dengan desain abad 21 bahwa setiap individu hidup dalam lingkungan yang sarat akan pemanfaatan teknologi, dimana terdapat akses informasi, percepatan komunikasi, dan kemudahan dalam menciptakan kolaborasi baru.

Realitas yang terjadi seperti diatas membuat guru harus mampu menghadirkan konten pembelajaran berbasis kolaborasi agar secara efektif dapat membantu siswa dalam mencapai kompetensi abad 21. Konten pembelajaran pada abad 21 ini kemudian dikenal 4C, yaitu Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation. Dengan begitu, guru sebagai tenaga professional dengan kapasitas dan kualitasnya harus mampu menjawab segala tantangan dan kebutuhan pendidikan.

Tuntutan profesionalisme guru abad 21 bukan pada kemampuan guru dalam mengetahui berbagai hal, akan tetapi guru harus memiliki keahlian mencari tahu bersama dengan siswa, menjadi role model kepercayaan, keterbukaan, dan ketekunan kepada siswanya untuk menghadapi realitas pendidikan dan kehidupan abad 21.

Kecakapan Guru di Abad 21

Kompetensi digital guru sangat erat kaitannya dengan kecakapan guru dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi berdasarkan pada kaidah pedagogis dengan menyadari implikasinya terhadap metodologi pendidikan. Blyznyuk (2018) membagi kompetensi digital guru kedalam beberapa bagian, yaitu: information, communication, editional content creator, security, dan educational problem solving. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.

  1. Information. Guru seyogyanya perlu memiliki kemampuan literasi data, seperti kemampuan dalam mencari, memilih dan memilah, mengevaluasi, mengelola informasi yang cocok untuk pembelajaran;
  2. Communication. Keterampilan untuk terlibat, berinteraksi, berbagi, dan bekerja sama melalui pemanfaatan teknologi digital;
  3. Editional content creator. Kemampuan guru untuk dapat menciptakan konten pembelajaran digital, seperti program aplikasi pembelajaran, presentasi interaktif, video pembelajaran animasi, dan lain sebagainya;
  4. Security. Guru memiliki kemampuan dalam menjamin perlindungan terhadap dampak produk teknologi digital bagi siswanya dalam proses pembelajaran; dan
  5. Educational problem solving. Yaitu pemecahan masalah dan mengatasi persoalan-persoalan teknis, mampu mengidentifikasi kelemahan-kelemahan teknologi digital dalam pembelajaran, dan kreativitas dalam memanfaatkan produk teknologi digital dalam pembelajaran secara positif.

Pendidikan tidak akan pernah hilang selama manusia masih hidup dimuka bumi. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang dididik dan butuh pendidikan. Pendidikan yang berkualitas sangat dibutuhkan dalam menyongsong kehidupan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.

Desain Pembelajaran Abad 21

Desain pembelajaran terus berkembang dan semakin bervariasi seiring berjalannya waktu. Hal ini tak lepas dari adanya kemajuan teknologi dan informasi di sektor pendidikan.

Prayogi dan Estetika (2019) mengungkapkan bahwa terdapat tiga desain pembelajaran serta strategi intruksional yang dapat digunakan untuk mendukung kompetensi kompetensi guru di abad 21 dan usaha tercapainya kecakapan abad 21.

  1. Project Based Learning

Model pembelajaran Project Based Learning (PBL) merupakan pengajaran yang mencoba mengaitkan antara tekonolgi dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang bersinggungan dengan siswa.

Project based learning merupakan model pembelajaran yang mengatut pada teori belajar konstruktivistik. Strategi pembelajaran yang menonjol dalam pembelajaran konstruktivistik antara lain adalah strategi belajar kolaboratif. Strategi instruksional untuk menghadirkan pembelajaran berbasis PBL dapat diwujudkan melalui kegiatan laboratorium, pemecahan masalah, diskusi, brainstorming, studi kasus, dan simulasi.

2. Problem Based Learning

Model pembelajaran ini guna mempersiapkan siswa berpikir kritis, ketajaman dalam analisis untuk mencari dan menggunakan sumber belajar yang sesuai. Siswa diberikan masalah-masalah dunia nyata yang berkaitan dengan konteks kehidupan siswa, kemudian siswa diarahkan untuk bekerja sama mengurai permasalahan-permasalahan yang diajukan.

Problem Based Learning dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan sekaligus mencari informasi-informasi baru yang relevan.

3. Cooperative Learning

Model pembelajaran cooperative learning merupakan model pembelajaran yang dimana sistem belajar dan bekerja dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil. Model ini bertujuan untuk menunjang kecakapan siswa dalam bekerja sama dan berkolaborasi.

Intruksional model cooperative learning dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode seperti Jigsaw, STAD (Student Teams Achievement Divisions), TAI (Team Assisted Individualization atau Team Acelerated Instruction), TGT (Teams Games Tournament), NHT (Number Head Together), CS (Cooperative Script), dan lain sebagainya.

Kompetensi Profesional Guru pada Abad 21

Guru yang professional harus mampu mentransformasikan nilai-nilai budaya kedalam ilmu pengetahuan untuk menuju kearah yang lebih berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi.

Menurut Honsan (2014) secara sederhana kualifikasi professional pendidikan guru dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Kapabilitas personal (person capability), artinya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan, serta sikap yang memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaran dengan efektif;
  2. Guru sebagai pembaharu (innovator), artinya guru harus memiliki komitmen terhadap perubahan dan informasi. Guru diharapkan mengetahui kecakapan, keterampilan dan sikap yang tepat terhadap pembaharuan sekaligus sebagai penyebar ide-ide baru yang efektif; dan
  3. Guru sebagai pengembang (developer), artinya ia harus memiliki visi keguruan yang baik, luas, dan mantap secara perspektif. Guru harus mau dan mampu memandang jauh kedapan untuk menjawab tantangan-tantangan zaman yang dihadapi khususnya pada sektor pendidikan yang didefinisikan sebagai sebuah sistem.

Dalam International Society for Technology in Education terdapat beberapa karakteristik keterampilan guru abad 21 dimana era informasi sebagai ciri utamanya, membagi keterampilan guru abad 21 ke dalam lima kategori, yaitu:

  1. Memfasilitasi dan menginspirasi belajar dan kreativitas peserta didik;
  2. Merancang dan mengembangkan pengalaman belajar dan asesmen era digital;
  3. Menjadi model cara belajar dan bekerja di era digital;
  4. Mendorong dan menjadi model tanggung jawab dan masyarakat digital; dan
  5. Berpartisipasi dalam pengembangan dan kepemimpinan profesional.

Kompetensi professional guru merupakan sebuah kompetensi seorang guru yang harus senantiasa meningkatkan kemampuan dan mengembangkan wawawan, di antarannya:

  1. Mengikuti diklat atau pelatihan

Diklat atau pelatihan dapat diikuti dengan metode luring atau daring. Dengan diklat atau pelatihan, guru dapat meningkatkan kompetensi dan keterampilan dalam mengelola proses pembelajaran.

Banyak platform yang menyediakan diklat atau pelatihan. Salah satunya e-guru.id yang secara khusus platform ini diperuntukkan bagi guru yang hendak meng-upgrade kompetensi guru. Mulai dari kualitas, kapasitas, dan keterampilan agar guru melek digital, mahir perangkat pembelajaran, dan juga dapat menunjang karir guru.

2. Seminar

Seminar juga dapat membantu guru dalam upaya meningkatkan pengetahuan atau keterampilan. Dengan seminar, guru dapat memahami hal-hal terkait dengan pendidikan dan pengajaran. Salah satu platform penyedia seminar adalah Guru Juara (www.gurujuara.com) dan E Guru id (e-guru.id). Keduanya seringkali mengadakan seminar untuk guru secara gratis tingkat nasional dan bersertifikat.

3. Mengaktifkan MGMP dan KKG;

Cara lainnya adalah dengan mengaktifkan MGMP dan KKG. Guru perlu melakukan diskusi atau sharing berbagai pengetahuan dan pengalaman dengan guru lain dalam rangka meningkatkan pengetahuan.

4. Melakukan penelitian tindakan

Penelitian tindakan dilakukan untuk menguji, mengembangkan, agar menemukan dan menciptakan tindakan baru sehingga tindakan tersebut jika diterapkan akan lebih mudah dan cepat dalam prosesnya, hasil yang didapatkan lebih banyak dan berkualitas.

5. Melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi

Dengan melanjutkan studi, guru dapat lebih mendalam dalam memahami hakikat, tugas, peran, fungsi, dan tanggungjawab guru di dunia pendidikan. Melanjutkan studi juga memberikan kesempatan untuk meng-upgrade kapasitas, kualitas, dan keterampilan dalam bidang pendidikan dan keguruan.

Pada abad 21, pengembangan kompetensi guru sangat dibutuhkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya perkembangan teknologi yang merambat ke sektor pendidikan yang membuat pelaksanaan pembelajaran semakin melibatkan teknologi modern.

Maka dari itu dibutuhkan kecakapan guru terkait dengan kemampuan guru dalam memunculkan ide atau gagasan, menyiapkan metode, strategi dan model pembelajaran serta mampu memanfaatkan media teknologi dan informasi dalam proses pembelajaran.

Berita Terkait

Marak Bullying, Jokowi Minta Kepsek dan Guru Lakukan Hal Ini!
Ternyata Guru Sertifikasi Berkesempatan Mendapatkan Double Tunjangan,Simak Penjelasannya!
Pencairan Rapelan Kenaikan Gaji Guru  Januari dan Februari 2024 belum Juga Dicairkan, Bagaimana Sistem Sebenarnya?
Pesan Presiden Jokowi untuk Semua Guru dan Kepala Sekolah Harus menjadi Perhatian Khusus
4 Hal Yang Harus Guru dan Kepala Sekolah Ketahui Jika Akan Mengubah Rencana Hasil Kinerja (RHK)
Guru Kesulitan Memenuhi 32 Poin Kinerja  dari Yang Sudah Direncanakan, Kemdikbud Siapkan Solusi Ini!
Jokowi Hadiri Kongres PGRI, Ketua PGRI Minta Hal Ini
Kabar Baik untuk Guru Usia Tinggi dan Guru Masa Kerja Lama dari Kemdikbud
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 4 Maret 2024 - 13:17 WIB

Marak Bullying, Jokowi Minta Kepsek dan Guru Lakukan Hal Ini!

Senin, 4 Maret 2024 - 11:47 WIB

Ternyata Guru Sertifikasi Berkesempatan Mendapatkan Double Tunjangan,Simak Penjelasannya!

Senin, 4 Maret 2024 - 11:14 WIB

Pencairan Rapelan Kenaikan Gaji Guru  Januari dan Februari 2024 belum Juga Dicairkan, Bagaimana Sistem Sebenarnya?

Senin, 4 Maret 2024 - 10:28 WIB

Pesan Presiden Jokowi untuk Semua Guru dan Kepala Sekolah Harus menjadi Perhatian Khusus

Sabtu, 2 Maret 2024 - 11:57 WIB

4 Hal Yang Harus Guru dan Kepala Sekolah Ketahui Jika Akan Mengubah Rencana Hasil Kinerja (RHK)

Sabtu, 2 Maret 2024 - 11:16 WIB

Jokowi Hadiri Kongres PGRI, Ketua PGRI Minta Hal Ini

Sabtu, 2 Maret 2024 - 10:57 WIB

Kabar Baik untuk Guru Usia Tinggi dan Guru Masa Kerja Lama dari Kemdikbud

Jumat, 1 Maret 2024 - 12:35 WIB

Kabar Update TPG Guru Kemdikbud dan Guru Kemenag di Bulan Maret, Mulai Sinkronisasi Data?

Berita Terbaru