Home / Opini

Jumat, 11 Juni 2021 - 09:15 WIB

Dilema Penilaian Akhir Tahun di Masa Pandemi, Haruskah Semua Siswa Naik Kelas?

Saat ini seluruh siswa dan guru sedang berjibaku untuk mempersiapkan diri menghadapi Penilaian Akhir Tahun (PAT). Rangkaian pembelajaran yang dimulai pada pertengahan Juli tahun yang lalu akan segera diakhiri dengan penentuan keberhasilan pembelajaran selama tahun pelajaran ini. Haruskah seluruh peserta didik naik ke kelas yang lebih tinggi dengan dalih pandemi? .

Pertanyaan ini menjadi momok yang mengusik keseriusan guru dalam melakukan proses penilaian akhir tahun mengingat banyaknya kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran berlangsung, termasuk rendahnya partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran daring.

Masa pandemi yang seolah tidak ada ujungnya ini telah mengubah segala lini kehidupan, khususnya di bidang pendidikan. Perubahan proses belajar dari metode tatap muka menjadi tatap maya membuat semua pihak yang terlibat dalam pendidikan harus melakukan perubahan dengan cepat. Sebagai fasilitator pembelajaran, guru dituntut untuk kreatif dalam menyajikan pembelajaran bagi peserta didik secara daring.

Ini bukanlah hal yang mudah karena penguasaan terhadap perkembangan teknologi dan pemanfaatan internet sebagai alat pembelajaran masih jauh dari apa yang diharapkan. Sebelumnya, guru tidak begitu peduli dan termotivasi untuk mempelajari berbagai aplikasi edukasi yang sesungguhnya memberi kemudahan bagi guru untuk proses pembelajaran. Namun secara tiba-tiba semua guru harus bergerak serentak belajar teknologi di bidang edukasi.

Di sisi lain peserta didik yang terbiasa diatur oleh guru untuk belajar dan selalu mendapatkan pendampingan baik di kelas maupun di luar, harus memposisikan diri dapat mengatur diri sendiri dalam proses pembelajarannya. Tidak ada kesempatan bertanya langsung seperti halnya di dalam kelas. Tidak ada canda gurau dan gelak tawa bersama teman saat di kelas. Mereka seperti hidup terasing  dalam belajar tanpa ada teman dan guru di sampingnya.

Baca Juga:  Simak! Kriteria Dan Syarat Menjadi Calon Asesor Seleksi PPG

Perubahan ini memberi pengaruh besar kepada psikologis anak, apalagi dibarengi dengan keterbatasan fasilitas belajar seperti tersedianya ponsel pintar (smartphone) atau jaringan internet.

Ketidakpastian tentang akhir dari pandemi ini juga membuat ketidakpastian pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik. Pemerintah melalui kebijakannya telah memberikan ruang kepada guru untuk merampingkan materi pembelajaran melalui proses analisa yang dilakukan oleh guru di kelompok mata pelajarannya. Pihak sekolah juga memberikan keringanan dalam persyaratan pencapaian ketuntasan.

Namun semua keringanan tersebut tidak disambut baik oleh seluruh peserta didik. Hal ini dapat dibuktikan dari rendahnya partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran daring. Kesulitan yang dihadapi sudah diidentifikasi dan dicarikan jalan keluarnya tapi tidak memberikan pengaruh besar.

Pertemuan tatap muka secara terbatas sesaat yang dilakukan ketika kondisi pandemi mulai membaik pada bulan Februari yang lalu merupakan kesempatan emas bagi guru untuk  memotivasi peserta didik untuk selalu aktif dalam pembelajaran. Itu merupakan saat yang dinanti guru dan siswa untuk berdiskusi lebih mendalam terhadap materi yang diberikan secara daring. Namun suasana itu tidaklah berlangsung lama. Saat kasus Covid-19 meningkat lagi memaksa siswa mengikuti pembelajaran secara daring kembali.

Perubahan situasi  dan kondisi pembelajaran tanpa bisa diprediksi ini telah  mengubah harapan serta menurunkan motivasi siswa untuk belajar. Penurunan ini terlihat dari kehadiran yang tidak disiplin, kelalaian dalam membuat dan menyerahkan tugas bahkan ketidakpedulian mereka terhadap proses pembelajaran.

Baca Juga:  Pentingnya Penerapan Task Analisis Matematis dalam Belajar Fisika

Hal ini selalu menjadi diskusi hangat di kalangan guru ketika mereka saling berbagi cerita tentang proses belajar daring. Yang lebih menyedihkan ketika para siswa terlihat sedang online tapi tidak mau ikut pembelajaran. Dihubungi secara langsung tidak direspon. Akhirnya guru hanya bisa menebah dada.

Menyikapi penurunan motivasi ini menuntut peran maksimal dari wali kelas dan  guru BK . Kerjasama yang kompak harus dilakukan agar peserta didik tetap merasa dilayani dengan baik. Segala kesulitan yang mereka hadapi perlu dicarikan solusinya.

Sejauh ini masih terdapat laporan dari guru mata pelajaran bahwa sepertiga jumlah siswa tidak hadir dalam pembelajaran daring, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya. Dari penelusuran yang dilakukan bersama antara wali kelas dan guru BK dapat  disimpulkan bahwa ketidakaktifan mereka dalam proses pembelajaran adalah kelalaian, kurangnya motivasi, dan tidak ada kontrol dari orang tua. Dan sebagian kecil mengalami kendala dengan jaringan internet dan tidak memiliki fasilitas belajar online.

Dari paparan fenomena pembelajaran di atas membuat guru beserta pimpinan sekolah jadi bingung . Apakah upaya yang harus dilakukan terhadap peserta didik dengan kualitas pendidikan seperti ini. Pantaskah mereka dinyatakan naik kelas di akhir tahun?.

Ditulis oleh Tri Handayani,S.Pd,M.Pd, Guru SMAN 1 Banuhampu Kab. Agam, Sumatera Barat

Share :

Baca Juga

Opini

Apa Itu Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Bagaimana Penerapnnya?

Opini

Menjaga Silaturahmi Meskipun dari Jauh
olahraga saat pandemi

Opini

Olahraga dan Pandemi Covid-19
motivasi belajar anak

Opini

Membangun Lingkungan Belajar di Sekolah Ramah Anak

Opini

Siswa SMK Tergolong Miskin dan Kalah Bersaing dengan Siswa SMA?
hidup sehat di masa pandemi

Opini

Membiasakan Hidup Sehat di Tahun Kedua Pandemi
literasi pada anak

Opini

Mengenalkan Literasi pada Anak

Opini

Berbagai Peran dalam Pendidikan di Masa Pandemi