Home / Opini

Minggu, 28 November 2021 - 00:28 WIB

Anak Slow Learner dan Ekstrim Kiri, Begini Cara Mengajarnya!

Ditulis oleh Tuti Salamah

Anak slow learner atau yang memiliki kecerdasan di bawah itu, sering membuat guru pusing dengan bagaimana cara menghadapinya.

Slow learner atau siswa lamban belajar adalah anak yang mengalami kelambanan dalam memproses informasi, maupun belajar. Tingkat kecerdasan intelektual (IQ) anak slow learner di bawah rata-rata. Skor Intelligence Quotient (IQ) untuk anak slowlearner sendiri kisaran antara 70-90.  

Anak slow learner masuk dalam kategori ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) ekstrim kiri. Pembagian anak ABK ekstrim kiri yang lain juga diisi oleh golongan anak debil, embisil dan idiot. Karena termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus, cara belajar anak slowlearner berbeda dengan anak kondisi nomal. Begitu juga dengan cara mengajar anak slow learner tidak bisa disamakan dengan cara mengajar anak dengan IQ normal.

Tahun 2014 penulis pernah mendapat kesempatan mengajar anak slow learner dengan kondisi yang di luar dugaan. Saat itu penulis dihadapkan pada anak usia 14 tahun dengan kemampuan intelektual dan mental seperti anak usia TK. Tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Mengalami keterlambatan dalam mengolah informasi dan merespon stimulus. Tidak tahu bagaimana harus bersikap layaknya anak seusianya.

Memang, ekspektasi dengan hasil pembelajaran pada anak slow learner sebaiknya tidak terlalu tinggi. Fokuslah pada perkembangan sosial, motorik dan pengetahuan yang memang dibutuhkan saat itu. Sebelum membahas lebih lanjut, penulis akan paparkan tahapan proses pembelajarannya.

Tahapan pembelajaran yang penulis terapkan ini sudah dipraktekan juga oleh para relawan pengajar di Taman Baca Pelosok Bumi, Karawang dan relawan pengajar lain di Cikarang, Bekasi (2019).

Buatlah Karakteristik Singkat Siswa

Menulis karakteristik siswa slow learner sangat membantu guru mengetahui kebutuhan pengajaran apa saja yang sesuai dengannya.

Nama: ZA

Usia: 14 tahun

Jenis Kelamin: Perempuan

Kemampuan berhitung: (-)

Kemampuan membaca: (-)

Kemampuan menulis: (-)

Kebiasaan yang dilakukan: Menggerak-gerakan bola mata setiap kali mengalami kebingungan.

Lakukan Pembelajaran dengan 20% Teori dan 80% Praktek

Setelah membuat karakteristik dari siswa, tentukan metode pembelajaran yang ingin diterapkan.

Pada pertemuan minggu pertama, saya mengajak ZA mengenal abjad yang saya tulis, dengan disertai gambaran bentuk benda yang mudah dikenali. Sambil tangan terus menggores garis, mulut saya tak henti menggambarkan. Huruf A, terdiri dari 2 garis miring yang bertemu dan satu garis mendatar di tengahnya. Seperti gambar atap rumah di luar, nah huruf A bentuknya seperti itu.

Mengingat usia ZA bukan lagi golden age, dan memang keterbatasannya sebagai anak slow learner yang butuh pengulangan dalam belajar. Saya ulang goresan garis yang sama dan kata-kata yang sama pula. Sampai ZA benar-benar mampu menangkap maksud apa yang saya ajarkan. Setelah ZA mampu memahami, saya minta dia untuk menulis huruf yang sama. Bisa? Sekali, dua kali, tiga kali ZA terlihat kesulitan menggambarkan garis yang ada di benaknya.

“Oke, tidak apa-apa. Pelan-pelan, diingat-ingat lagi tadi bentuknya seperti apa ya….” kataku pada ZA setiap kali ragu dan salah melakukan sesuatu.

Mengajar anak slow learner jug butuh cemistry. Jika target pembelajaran adalah membuatnya memahami apa yang diajarkan, maka guru harus bersedia mengulang beberapa kali penjelasannya, dan memaklumi kekurangan anak didiknya.

Reward dan Punishment Untuk Memotivasi Belajar Siswa

Memberikan reward dan punishment dalam proses pembelajaran juga akan menumbuhkan motivasi belajar siswa. Pemberian reward dan punishment bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa.

  • Beri Reward Saat Siswa Berhasil Menyelesaikan Satu Tugas
Baca Juga:  11 Jenis Tunjangan yang Akan Diberikan Untuk Guru

Memberikan hadiah/ reward kepada siswa saat berhasil melaksanakan tugas merupakan bentuk penghargaan atas usaha kerasnya. Hadiah yang diberikan tidak harus berupa materi. Bisa berupa ucapan-ucapan positif yang membangun mental siswa supaya lebih percaya diri.

Good Job!

Bagus!

Wah, luar biasa!

Nah, Ibu yakin kamu bisa!

  • Beri Punishment Saat Siswa Tidak Menyelesaikan Tugas

Punishment/ hukuman di sini bukan hukuman fisik yang melanggar hak asasi manusia. Hukuman dari guru bisa berupa kata-kata penegasan yang membuat sikap siswa berubah. Misalnya, jika dalam proses pembelajaran siswa terlihat malas maka guru bisa menegaskan, “Kalau kamu malas-malasan, nanti kita nggak bisa belajar di luar lagi lho….”

“Kalau belajarnya nggak giat, waktu bermainnya jadi hilang.”

“Wah, padahal Ibu berniat memberi kamu permen, tapi kalau belajarnya malas permennya buat Ibu aja ya.”

Guru bisa menyesuaikan reward dan punishment supaya siswa tidak tergantung belajar karena reward dan punishment.

Jadwalkan dalam 1 Pekan Berapa Kali Pembelajaran Outdoor

Pembelajaran di luar ruangan sangat membantu anak slow learner mengingat lebih dalam, karena pengaruh sisi emosi. Seperti halnya ZA, setelah mengingat beberapa abjad saya mengajaknya ke sebuah taman tak jauh dari rumahnya. Melihat bunga sepatu yang tumbuh di pinggir taman, kutanya ZA.

“Bunga ini berwarna apa?”

“Merah,” jawab ZA.

“Merah di awali huruf apa?”

“Em.”

“Huruf M bentuknya seperti apa? Coba gambarkan di tanah.” Kukasih ZA sebuah ranting pohon dan kubiarkan dia menggores huruf sesuai apa yang diingatnya.

Barangkali dari Bapak/ Ibu guru ada yang pernah menonton film India Taare Zameen Par? Film tentang anak disleksia bernama Ikhsan yang diajar guru seni yang diperankan oleh Amir Khan? Nah, dalam mengajar ABK lamban belajar tidak jauh berbeda. Cara mengajar harus lebih unik dan di luar cara mengajar normal. Jika mengajar anak dengan IQ normal bisa dengan waktu 1 jam paham, mengajar ABK lamban belajar membutuhkan waktu yang lebih lama. Bahkan seringkali tiga kali pertemuan baru paham untuk kasus seperti ZA.

Gunakan Buku Bacaan Bergambar Untuk Memperlancar Kemampuan Belajar Siswa

Meskipun ZA usianya 14 tahun, namun saya menggunakan buku cerita bergambar untuk anak TK dalam mengajar ZA. Penggunaan buku cerita bergambar yang full color lebih menarik dan mudah diingat. Dalam pengenalan abjad pun saya memanfaatkan buku-buku anak usia dini, seperti pengenalan huruf dengan gambar hewan di sampingnya.

Meski ZA akan lebih dulu mengingat nama hewan sebelum mengerti bentuk-bentuk hurufnya, namun hal tersebut sangat membantu. Gambar objek binatang dan tumbuhan dalam ceirta bergambar juga bisa diolah menjadi stimulus pertanyaan yang berbeda.

Misal dari satu gambar gajah, guru bisa menjabarkan beberapa pertanyaan.
“Berapa jumlah kaki gajah?”

“Apa huruf terakhir gajah? Bagaimana cara menulisnya?

“Gajah di gambar ini, warnanya apa ya? Bagaimana cara menulisnya?”
“Ada berapa pohon di samping gajah?

Mengajar anak slow learner memang tidak mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra dari seorang guru. Tugas guru dalam mengajar siswa berkebutuhan khusus perlu mendapat perhatian serius. Karena selain harus terjun langsung dengan anak berkebutuhan khusus, guru juga masih diwajibkan menyelesaiakan laporan yang menguras waktu.

Jadilah bagian dari anggota e-Guru.id dan tingkatkan kompetensi Anda sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Share :

Baca Juga

Opini

Mengenalkan Kembali Budaya Daerah pada Siswa melalui Pelajaran Muatan Lokal 
sistem pembelajaran jarak jauh

Opini

Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Belum Bisa Menggantikan Sekolah Tatap Muka

Opini

Belajar Menyenangkan dengan Nearpod bagi Peserta Didik Tunarungu

Opini

Keluar dari Zona Nyaman, Menjadi Guru Kreatif dan Inovatif

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Henny Suci Herawati
guru di masa pandemi

Opini

Pandemi Membawa Berkah bagi Guru?
empty road between trees

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Indah Wulandari
Ramadan dan Kurma

Opini

Puasa Ramadan Jadi Maksimal dengan Kurma