Home / Opini

Kamis, 15 September 2022 - 03:27 WIB

Menjadi Guru Pembelajar Sepanjang Hayat

Oleh Bekti Ninghati S.Pd., MM

Guru di SMK Negeri 2 Cikarang Barat

 

Cita-cita saya di  masa kecil adalah menjadi seorang guru. Dan itulah yang terjadi sekarang. Ya, saya menjadi seorang guru. Sungguh saya tidak menyangka bahwa cita-cita masa kecil itu menjadi kenyataan.

Saya terlahir di sebuah desa yang sejuk di kaki gunung Lawu, di Kelurahan Plosorejo, Matesih, Kabupaten Karanganyar 53 tahun yang lalu. Saya dibesarkan di sebuah keluarga yang sederhana dengan satu kakak kandung. Bapak saya merupakan pensiunan Kepala Sekolah Dasar dan Ibu sebagai petani. 

Bapak saya seorang guru yang pandai bercerita dan acapkali melucu. Bapak sering bercerita tentang perjalanan hidupnya di zaman penjajah dan perjuangan para pahlawan. Kadang kala juga bercerita tentang pengalamannya mengajar di tengah peperangan, karena ketika itu Indonesia masih dijajah Belanda. Bapak juga sering bercerita bagaimana memulai pembelajaran dengan berdoa dan bernyanyi untuk menarik perhatian dan memantik semangat siswa. Bapak mengakhiri pembelajaran dengan berdoa dan bernyanyi pula sebelum pulang sekolah, agar siswa kembali ke rumah dengan perasaan riang. Bapak bercerita dengan sangat runtut yang kadang diselingi dengan lelucon sehingga dapat dengan mudah memberikan pemahaman dan gambaran tentang ceritanya itu.  Kadang cerita Bapak bisa membawa saya seakan ikut dalam situasinya. 

Masa kecil saya merupakan masa yang menyenangkan. Sepulang sekolah, saya selalu bermain dengan teman-teman sebaya, bermain rumah-rumahan, masak-masakan dan sekolah-sekolahan. Cerita yang sangat bagus dari Bapak rupanya mempengaruhi permainan masa kecil saya. Kami sering bermain berpura-pura menjadi guru dan murid di kelas. Saya bergaya menjadi seorang guru dengan memakai sandal Ibu yang tentunya kebesaran. Sedangkan teman-teman berpura-pura menjadi murid yang mendengarkan dan mengikuti apa yang saya sampaikan. Saya mengajar teman-teman dimulai dengan berdoa dan bernyanyi dan mengakhiri pembelajaran dengan bernyanyi kembali, persis seperti cerita Bapak.

Ibu saya seorang petani yang sangat rajin. Beliau terbiasa bangun jam 03.00 WIB pagi untuk mempersiapkan sarapan. Saya dan kakak selalu dibangunkan oleh Ibu pada jam itu. Berbagai cara ibu membangunkan kami, mulai dengan cara dibasuh air es atau menyetel radio keras-keras. Awalnya terasa berat, apalagi dengan udara yang sangat dingin di pegunungan. Tetapi lama-kelamaan menjadi terbiasa. Setelah sholat Tahajud, kami belajar bersama sambil menunggu Subuh. Setelah sholat Subuh kami mandi dan jam 5.30 WIB pagi kami berangkat sekolah setelah sarapan.

Tamat Sekolah  Dasar (SD) saya melanjutkan ke SMP Negeri 2 Karanganyar, yang merupakan SMP favorit saat itu. Meskipun jaraknya sangat jauh, saya sangat antusias untuk bersekolah di sana. Rumah saya yang berada di pelosok kampung harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 km dengan waktu 30 menit untuk sampai ke jalan besar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik bus. Naik bis kurang lebih membutuhkan waktu 25 menit untuk sampai ke sekolah. Jarak antara rumah dengan sekolah kurang lebih 15 km. 

Perjalanan sejauh itu tidak menyurutkan semangatku untuk bersekolah. Apalagi di setiap perjalanan ketemu teman-teman yang sama-sama jalan menuju jalan raya untuk naik bus. Kala itu kita senang-senang saja, melangkahkan kaki sambil bercerita sehingga semuanya terasa ringan seakan tanpa beban. 

Apabila ada ulangan, kadang saya belajar sambil menempuh perjalanan. Sebab sekolah saya sekolah itu adalah sekolah favorit yang tentunya banyak anak-anak yang panda di sana. Meskipun saya rasa saya sudah belajar dengan luar biasa tekun, semangat, tetapi tetap saja tidak pernah masuk 10 besar, selalu antara 10 sampai 15.

Baca Juga:  Implementasi dan Contoh Kemandirian Remaja di Masa Pandemi

Setelah tamat SMP saya melanjutkan sekolah di SMEA Negeri Karanganyar, dengan jarak tempuh yang tidak jauh berbeda dengan waktu sekolah di SMP. Dengan pola pembelajaran yang mandiri membuat saya menjadi terbiasa untuk belajar, bahkan bisa dikatakan hobi saya belajar. Sehingga pada waktu di SMEA saya sering mendapatkan nilai yang bagus. Bahkan pada waktu kelulusan, saya mendapat rangking satu. Sungguh saya menyadari, saya bukan orang yang pandai, tetapi saya meyakini bahwa ketekunan bisa mengalahkan orang yang pandai. Itulah motivasi saya untuk memantik semangat belajar saya, agar mendapatkan nilai yang bagus sebagai salah satu bakti kepada kedua orang tua saya.

Selepas SMEA, saya mencoba mendaftarkan diri kuliah di Universitas Negeri Solo (UNS) mengambil Jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris.  Mengapa saya mengambil Jurusan Bahasa Inggris? Karena saya memiliki kakak perempuan dari Bude yang menjadi tentara wanita dan sangat saya kagumi. Kakak saya sering ditugaskan ke berbagai negara di dunia, yang tentunya beliau pintar berbahasa Inggris. Pengalaman kakak tersebut memberi dampak semangat untuk saya rajin belajar bahasa Inggris. Saya juga ingin keliling dunia seperti kakak. 

Ternyata nasib mujur tidak menghampiri saya. Saya tidak diterima kuliah di UNS. Saya pun akhirnya terminal selama 1 tahun karena tidak memungkinkan kuliah di kampus swasta karena biaya yang cukup tinggi. 

Meskipun pernah gagal, namun semangat saya untuk kuliah tetap tinggi tinggi. Saya mengambil kursus persiapan masuk perguruan tinggi, selama 3 bulan sebelum saya mendaftarkan kembali untuk kuliah di UNS. Kali ini, rencana saya mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Dunia Usaha. Saya kemudian diterima di Jurusan Pendidikan Dunia Usaha, khususnya Pendidikan Administrasi Perkantoran. Jurusan tersebut linier dengan jurusan pada waktu sekolah di SMEA yaitu Jurusan Tata Usaha.

Tentu saya sangat senang menjadi mahasiswa, apalagi materi perkuliahan pada Jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran  sebagian besar sama dengan mata pelajaran di SMEA. Saya tidak mengalami kesulitan selama mengikuti perkuliahan, sehingga mendapatkan nilai yang cukup baik bahkan saya mendapatkan beasiswa Ikatan Dinas. Setelah masa perkuliahan yang saya jalani selama 5 tahun, saya lulus dan langsung ditempatkan di SMEA Negeri Cepu sebagai PNS, yang tentunya tidak melalui serangkaian tes, tetapi melalui jalur Ikatan Dinas. Setelah bekerja kurang lebih 5 tahun di sana, saya pindah tugas mengikuti suami ke Bekasi.

Dengan belajar yang tekun, saya mendapatkan nilai yang bagus bahkan mendapatkan beasiswa Ikatan Dinas yang merupakan titik awal saya menjadi PNS. Orang yang rajin dapat mengalahkan orang yang pandai, itulah prinsip yang harus dimiliki oleh siapa saja jika merasa bukan orang yang pandai. Meskipun saat ini usia saya sudah tidak muda tapi saya tetap senang belajar. Belajar adalah pekerjaan sepanjang hayat. 

Bagi saya, menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang menyenangkan dan mulia. Saya selalu bersemangat ketika bertemu dengan para siswa dan siswi, untuk melakukan pembelajaran, mentransfer ilmu. Dan ketika mereka paham merupakan kepuasan tersendiri. (*)

 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Share :

Baca Juga

membuat e-modul

Opini

Gadget dan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19
cara sahur sehat

Opini

Cara Sahur yang Sehat

Opini

Menumbuhkan Kemampuan Menulis bagi Guru dengan 3M Plus K

News

Deretan Prestasi  SMAN 1 Pagar Alam di Olimpiade Sains
fitrah manusia

Opini

Menjaga Integritas Perisalah Legislatif
guru senior

Opini

Tak Ada Kata Terlambat bagi Guru Senior untuk Belajar Teknologi
pendidikan karakter

Opini

Pesantren Menjadi Solusi Pendidikan Karakter di Masa Pandemi?

Opini

Praktik Baik Ana Subekti: Mengatasi Berbagai Permasalahan Siswa dengan “Ultraguna”