Home / Opini

Senin, 19 September 2022 - 12:56 WIB

Menciptakan Tempat Penitipan Anak (TPA) yang Ramah dan Edukatif

Oleh Eka Yanti, ST

Guru di PAUD IK Nurul Qur’an Aceh

 

Selama ini, saya dipercayakan oleh Yayasan Pendidikan Islam Karakter Nurul Quran sebagai salah satu pengasuh di Tempat Penitipan Anak (TPA). TPA harus bisa menjadi partner yang dapat dipercaya orang tua dalam pengasuhan dan pembelajaran buah hati, serta terwujudnya tempat penitipan anak yang sehat, cerdas, ceria dan bertaqwa. 

Tahun 2019, awal mula saya bergabung dengan Nurul Quran. Waktu itu, saya benar-benar stres, pusing karena saya tidak mengerti bagaimana cara menghadapi dan mengasuh anak-anak di usia dini. Dan ternyata saya harus bekerja mulai dari pagi hingga sore hari untuk mengasuh anak-anak bayi mulai dari usia 3 bulan hingga 15 bulan. Dan itu bukan hanya 1 bayi saja yang harus ditangani tetapi bisa 6 sampai 8 bayi. Sedangkan pengasuhnya hanya 2 orang. 

Walaupun saya sudah menikah dan mempunyai 2 anak gadis, tetapi saya benar-benar belum mampu mengasuh anak bayi sebanyak ini sekaligus. Lagi pula secara tidak langsung ini bukan anak saya sendiri. Namun saya harus bisa berperan menjadi orang tua pengganti bagi mereka selama ibu kandung mereka sedang bekerja atau punya kesibukan lainnya.

Waktu itu saya belum memahami betul tentang pengasuhan anak usia dini. Sehingga saya rasanya enggan untuk bekerja. Saya kesal tetapi di hati saya yang paling dalam ingin bekerja di Nurul Quran. Untuk itu, saya harus bangkit.  Akhirnya saya berusaha bersusah payah untuk bisa belajar mendampingi dan menyayangi anak bayi asuh seperti menyayangi anak sendiri. Saya berusaha untuk bisa memberikan kasih sayang dan perhatian penuh kepada mereka, dengan mengandalkan pengalaman mengasuh anak sendiri—tanpa adanya bimbingan, pelatihan, pemahaman, dan tata cara pola asuh anak yang baik dan bijak.

Baca Juga:  Penerapan Blended Learning di Era Digital

Seringkali saya menjadi saksi pertama ketika anak yang saya asuh mulai bisa telungkup, merangkak, dan bisa berjalan selangkah demi selangkah atau mulai bisa berbicara sepatah dua kata, seperti memanggil “Ma” untuk panggilan mamanya  atau “Mi” untuk panggilan uminya, dan lain sebagainya. 

Januari 2022, tiba-tiba saya dipindahkan oleh yayasan untuk bergabung ke PAUD IK Nurul Quran. Saya kembali merasakan kewalahan yang luar biasa. Bukan hanya kami tetapi anak-anak juga harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Saat itu terdapat 12 anak didik dan pengasuhnya hanya berdua termasuk saya. 

Alhamdulillah, beberapa hari kemudian ada penambahan pengasuh. Bersyukurnya lagi yayasan mulai mengadakan pelatihan dan bimbingan teknis. Sehingga membuat saya sangat senang bisa bergabung dengan PAUD IK Nurul Quran, karena mempunyai kebudayaan yang sangat harmonis. Terbukti dengan adanya kerja sama, saling tolong menolong, dan saling mendukung satu sama lain layaknya keluarga sendiri. 

Dengan adanya bimbingan tersebut menambah pengetahuan baru bagi saya untuk merawat dan mengasuh anak. Banyak ide muncul guna dapat menyelenggarakan kegiatan bermain sambil belajar, mendukung tumbuh kembang anak yang sehat dan optimal, serta menanamkan akhlaqul karimah melalui pembiasaan sehari-hari, agar menghasilkan anak yang cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki perilaku yang mandiri, hidup sehat, ceria dan teratur. 

Baca Juga:  Gerakan Ijo Royo-Royo Desa Ranuklindungan (GIRR)

Maka dari itu, saya sangat berharap kepada sekolah dan yayasan agar lebih sering melakukan pelatihan dan bimbingan untuk para guru dengan mengundang orang yang ahli di bidang parenting. Sehingga semua itu akan menambah keterampilan tentang cara menangani anak-anak dengan pengasuhan anak yang baik dan bijak. 

Sudah seharusnya bahwa sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi anak, menjadi tempat yang aman dan nyaman serta dapat mengasuh dengan sentuhan kasih sayang, menanamkan nilai islami dalam jiwa anak sejak dini agar di kemudian hari menjadi generasi yang mandiri, cerdas, kreatif dan berakhlakul karimah. Para pendidiknya harus dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas melalui berbagai kegiatan edukatif agar anak memiliki keterampilan, kemampuan, dan pengembangan kehidupan di masa yang akan datang.

Saya sendiri masih ingin belajar dan terus belajar, untuk bisa mendidik mereka, menyayangi dan mencintai mereka sepenuh hati. Karena ternyata, mengasuh anak di usia dini itu lebih berat pertanggungjawabannya. (*)

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Share :

Baca Juga

Opini

Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa

Opini

Menghilangkan Persepsi Buruk pada Matematika dari Pikiran Siswa

Opini

Tradisi Unik Masyarakat Bugis Desa Soga di Bulan Muharram 
minat baca dan perpustakaan

Opini

Minat Baca dan Peran Perpustakaan
mendidik balita

Opini

Bolehkah Mendidik Balita dengan Gadget?

Opini

Dampak Positif dan Negatif Pembelajaran Daring bagi Guru
https://naikpangkat.com/promo-tebus-murah-daftar-pelatihan-3-orang-hanya-99-000/

Opini

Praktik Baik Deny Susilowati: Membangun Komunikasi untuk Kebaikan Anak Didik

Opini

Pengaruh Kenaikan Suku Bunga FED AS terhadap Perekonomian Indonesia dan Dunia