Home / Opini

Kamis, 16 Desember 2021 - 01:32 WIB

Akhir Perjuangan Seorang Guru Honorer

Oleh Sukarjo,S.Pd.SD

Guru di SDN 3 Balerejo

Saya bekerja sebagai seorang guru honorer selama 12 tahun di salah satu SD Negeri di Kabupaten Lampung Tengah, yang membuka formasi P3K untuk 2 guru kelas. Berbagai upaya saya lakukan agar lulus ujian P3K untuk mengakhiri status sebagai guru honorer. 

Segala kemampuan saya kerahkan, saya berusaha semampu yang saya bisa,termasuk belajar dari banyak sumber, dari berbagai media untuk menghadapi ujian P3K tahap  pertama. Meski saya punya afirmasi 35+, saya harus tetap belajar karena saya menyadari kesempatan emas guru induk di sekolah negeri ada di tahap pertama. Jika  saya gagal di tahap pertama, berarti pupus sudah harapan karena masih ada ujian tahap kedua dan ketiga yang akan lebih berat saingannya. Dan sangat mustahil  bagi saya mengalahkan saingan yang berserdik (memiliki sertifikat pendidik). 

Di rumah, saya tinggal berdua bersama ibu saya (74 thn) yang seorang janda. Sedangkan  bapak sudah tiada 2 tahun yang lalu. 

Menjelang ujian, semalaman saya tidak bisa tidur. Pukul satu dini hari, saya berdoa untuk kelancaran saya, baik di perjalanan maupun saat mengerjakan ujian. Padahal  pagi sekali saya harus sudah berangkat. 

Di pagi hari, setelah selesai sarapan dengan nasi goreng buatan ibu, saya berpamitan. Fenomena seperti ini jarang terjadi karena biasa saat saya akan pergi ke sekolah tidak pernah melakukan itu.  

Namun saat saya mau berangkat ujian ini, rasanya saya ingin sekali memeluk ibu. Saya mohon doa restu supaya lulus dan dapat mengerjakan soal-soal ujian nanti dengan baik. 

Lalu saya peluk erat ibu ketika hendak berangkat, saya terisak. 

“Mak,” ucap saya dengan suara terputus-putus. “Aku mangkat, yo…..” 

“Iyo, Le, tak doa’ke awan bengi ben lulus olehmu tes, ben lancar!” 

Ketika itu saya menangis.

“Kae nek arep sangu jukuk duit neng dompete mamak,” ucap ibu lagi.   

Saya cium tangan ibu kemudian berlalu pergi tanpa mengambil uang di dompet ibu.

Beruntungnya saya mendapat sesi kedua dalam ujian, jadi waktu perjalanan 2 jam naik motor masih ada waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan diri. 

Saat ujian tiba, semua soal saya kerjakan semampu saya, sebisa-bisa saya. Saya pilih jawaban yang menurut saya paling benar. Ketika waktu tersisa 2 menit, saya klik selesai. Kemudian muncul hasil ujian: teknis 230, MSK 156, wawancara 35.  

Saya catat hasil itu di kertas kartu ujian. Saya tidak bisa berpikir lagi, apakah dengan nilai itu saya lulus atau tidak. Kemudian saya keluar ruangan karena kepala sudah pening sekali. Ternyata begitu hebat dampak dari mengerjakan soal-soal di komputer  saat ujian.  Hingga  saya juga sampai lupa berapa passing grade yang harus dicapai. 

Tak lama setelah keluar ruangan, rekan kerja saya di sekolah yang sudah menjadi PNS sejak tahun kemarin kirim pesan dan bertanya, “Berapa nilainya, Pak?” 

Saya membalas dengan foto kertas yang saya gunakan mencatat nilai hasil ujian. Kemudian saya kirim.

Tak lama setelah itu saya mendapat balasan dari rekan saya.  “Selamat ya, Pak. Bapak masih harus banyak belajar lagi untuk di tahap 2.”  

Baca Juga:  Pendidikan Karakter bagi Penerus Bangsa

Ternyata rekan saya sudah menghitung nilai yang saya dapatkan dan ditambah dengan afirmasi, ternyata saya masih belum mencapai passing grade 320. Kurang 3 soal benar di bidang teknis. 

Saya terdiam. Dada terasa sesak, agak berat di tengkuk belakang. Ya Tuhan, apa lagi yang harus saya lalukan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Dalam hati saya menangis, apa lagi teringat ibu di rumah waktu melepas kepergian saya tadi pagi. 

Meskipun belum makan sepanjang hari, hari itu rasanya saya tidak merasa lapar atau haus. Yang saya rasakan hanya betapa kecewanya ibu nanti ketika tahu hasil ujian yang saya dapatkan. 

Saya istirahat sejenak di tempat yang agak sepi, sambil menghabiskan sebatang rokok sebelum pulang. Dalam perjalanan pulang, tubuh terasa lemas dan penuh kekecewaan. 

Hujan lebat turun ketika saya masih di tengah perjalanan sehingga saya harus beberapa kali berteduh. Sampai rumah jam 8 malam.

Di rumah, ibu sudah menunggu. “Piye, Le, tes e…? Lulus to, Mamak lek ndongake ora leren-leren, kok.”  

Saya tidak menjawab dan langsung masuk kamar karena seluruh pakaian saya basah. Tak lama setelah itu saya keluar dan menjawab sambil berjalan untuk ambil air minum. 

“Ora lulus, Mak, harus tes lagi sebulan lagi.” 

Saya berbohong sama ibu bahwa tesnya bisa diulang sekali lagi karena saya tidak ingin melihat ibu kecewa. 

“Oh, yo wes, gak popo.”  

Beliau tidak tampak sedih di depan saya dan tetap menghibur saya. Tapi mungkin sebenarnya ibu pasti kecewa tapi tidak menampakkan pada saya.

“Mamak gak masak, kae nek arep mangan goreng telur dewe, yo!” 

Saya bertambah sedih setelah tahu kawan sekantor saya lulus dengan nilai teknis 310 (murni).  Sehingga saya merasa tidak ada kawan seperjuangan lagi karena selama ini kami selalu berjuang bersama-sama; melewati hari-hari sebagai honorer, saling memberi dukungan,  mengerjakan soal try out bersama.

Sejak saat itu saya jadi sering merenung, bagaimana nasib hidup saya ke depan. Namun saya agak sedikit lega setelah sadar bahwa masih ada tahap kedua yang bisa saya ikuti. 

Pelan-pelan dengan berjalannya waktu, saya membuka lagi soal-soal latihan dan belajar lagi untuk menghadapi tes tahap dua. Sekalipun saya tahu itu lebih berat untuk lulus. Sambil menunggu keputusan resmi dari Panselnas tentang kelulusan tahap satu yang sempat diundur beberapa kali—karena banyak tuntutan dari daerah yang katanya soal tidak sesuai dengan kisi-kisi di tryout SIMPKB, passing grade terlalu tinggi, soal banyak yang jenis HOT, soal terlalu panjang, dan lain sebagainya. 

Saat pengumuman tiba, rekan saya yang sudah pasti lolos membuka lebih dulu akun SSCASN dan dia dinyatakan lolos. Saya pun memberi ucapan selamat. Padahal dalam hati saya merasa sedih dan iri, karena saya gagal. Dan  saya merasa dia akan meninggalkan saya. 

Saya yang sudah tidak semangat lagi membuka akun SSCASN karena sudah tahu saya akan lulus, saya tetap mencoba membuka akun saya melalui ponsel tapi ternyata susah untuk diakses. 

Baca Juga:  Jasa Guru Honorer Sangat Besar tapi Seringkali Terlupakan

Di kantor sekolah, akun saya dibukakan oleh rekan yang tempo hari menanyakan soal nilai saya. 

“Saya bukakan lewat laptop, Pak!” tawarnya.  

Saya mendekat ke meja kerjanya.  Dia teriak sambil memukul bahu saya. 

“PAK! Sampean LULUS PAAAKKK!” 

Dia meloncat sampai  guru yang lain kaget, semua melihat ke laptop dan ikut berteriak. Mereka memeluk saya, merangkul saya, tertawa karena senang. Sedangkan saya hanya terdiam, bingung, dan masih bingung. 

Seolah saya tidak percaya dan tidak bisa berbuat apa-apa, tertunduk di meja menahan rasa sesak di dada dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sesaat kemudian, saya mendongakkan kepala sambil berkata dan terisak, “Terima kasih, Tuhan, Terima kasih.” 

Terima kasih juga saya ucapakan kepada kawan-kawan, rekan kerja semuanya yang telah membantu dan selalu memberi semangat kepada. Di sekolah tempat saya mengajar, kami 9 orang guru memang sudah seperti keluarga.  Tangisku  pecah saat itu karena memang dari awal saya sudah pesimis berdasarkan nilai teknis yang saya dapatkan. 

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, ruangan sudah sepi. Saya sendirian di sekolah memandangi seluruh isi kantor. Dalam hati saya berjanji bahwa ruangan ini akan menjadi rumah kedua, menjadi ladang sebagai tempat mencari rezeki. 

Dari sinilah perjalan baru akan dimulai. Mata saya tak henti mengeluarkan air mata.

Pukul 13.00, saya baru pulang. Sesampai  di rumah  saya mendapati ibu sedang duduk di lantai di depan TV sedang makan mie instan dengan memakai kemben tanpa menggunakan baju. Dan ibu saya sudah terbiasa begitu, mungkin gerah juga setelah beraktivitas.  

Saya meletakkan tas di kamar kemudian mendekat ibu. Saya sentuh pundaknya. Sepertinya ibu tahu bahwa anaknya akan menyampaikan sesuatu. Setelah meletakan mangkuk mie di sampingnya, beliau bertanya.  ” Enek opo, Le….?”

“Mak,” kataku sambil terbata. “Aku lulus, Mak…!”

Tangisku pecah. Saya peluk ibu yang masih duduk di lantai, dan aku masih terus menangis. 

“Tes wingi kae aku lulus,  Maaakk….!” 

“Yo, syukur, Le. Mamak lek do’ake awan  bengi kanggo kowe, ben kowe lulus, ben kowe diterimo, ben berhasil.” 

Saya hanya menangis sambil tetap memeluk ibu saya. 

“Yo, wes, Kono gek maem,” katanya sambil menepuk bahu saya.

Berkat kebijakan pemerintah penurunan passing grade 10%, saya dinyatakan lulus tahap pertama. 

Kita memang tidak boleh menyerah dan putus asa. Terkadang apa yang tidak mungkin di pikiran manusia, tapi di sisi Tuhan semuanya bisa terjadi. 

Menghadapi tes tahap kedua perlu lebih banyak belajar lagi dan berdoa. Serahkan semua kepada yang di atas. Manusia boleh berencana tapi Tuhan lah yang menentukan.

Jangan lewatkan! SEMINAR NASIONAL “Reformasi Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) untuk Guru. Klik poster atau link di bawah untuk mendaftar.

Seminar gratis SKP guru

LINK PENDAFTARAN

Informasi lebih lanjut:
0895147800871 (Idha)
085161610200 (Lidiyah)

Share :

Baca Juga

mengenal bakat anak

Opini

Penerapan Discovery Learning untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Pembagian Bilangan Bulat 
pendidikan karakter

Opini

Pesantren Menjadi Solusi Pendidikan Karakter di Masa Pandemi?
persiapan pembelajaran tatap muka

Opini

Persiapan Menjelang Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Covid-19
vaksinasi covid-19 pada guru

Opini

Guru Tak Perlu Takut Vaksinasi Covid-19

Opini

Menumbuhkan Karakter Peduli pada Siswa dalam Pembelajaran di Masa Pandemi

Opini

Tepatkah Pelaksanaan Lomba untuk Anak PAUD?

Opini

Implementasi dan Contoh Kemandirian Remaja di Masa Pandemi

Opini

Sertifikasi untuk Guru Tua